My Work.
from Land, Aerial and Underwater

Photographing Erica Putri and Patrishiela Tan on a trip to Garut w/ Para Petualang Cantik | Motret Erica Putri dan Patrishiela Tan sambil trip Garut Para Petualang Cantik

Ini adalah trip pertama saya dengan tim Para Petualang Cantik, sebuah program tv dengan gaya petualangan dan jalan-jalan yang dipandu oleh (biasanya) dua model. Di trip pertama saya kali ini tujuannya adalah ke daerah Garut Selatan dengan host Erica Putri dan Patrishiela Tan. Erica Putri sering muncul di layar kaca bermain peran dalam sinetron sedangkan Patrishiela Tan lebih banyak berkecimpung di dunia modeling dan fashion show.

This is my first trip with the Para Petualang Cantik team, a tv program with travel and adventure content and hosted by (usually) two models. My first trip with them was a chance to explore the Western Garut area (Western Java) with Erica Putri and Patrihiela Tan, you can see Erica's face often in Indonesia tv station playing a role in a soap opera while Patrishiela is more of a model.

Patrishiela Tan
Foto-foto ini umurnya sudah lebih dari setahun namun baru sekarang saya unggah disini. Kamera dan peralatan yang saya gunakan adalah:
- Canon 5D Mark II
- Sandisk CF card 64GB dengan kecepatan 160mb/s
- Tiga lampu flash merek Yongnuo
- Easy foldable softbox  tanpa merek

These photos have been in my hard drive for over than a year but I just uploaded them now. I'm using:
- Canon 5D Mark II
- Canon 24-70mm f/2.8
- Sandisk CF Card 64GB with 160mb/s speed
- Three units of Yongnuo speedlite flash
- Flash trigger from Yongnuo
- Easy foldable softbox (no brand)

Erica Putri

Untuk memotret siang hari seperti ini saya menggabungkan ketiga lampu flash tersebut dengan menggunakan lakban hitam dan dioperasikan terpisah dari kamera dengan bantuan flash trigger Yongnuo serta bantuan seorang teman yang selalu setia megangin lampu flash.

To take these photographs under the midday sun, I put all three speedlite flashes together using black duck tape and have them triggered using the off camera flash trigger from Yongnuo and a help from friend to hold and direct the light.

Patrishiela Tan dan Erica Putri

Erica Putri
Bisa dibilang peralatan lampu dan lain-lainnya serba terjangkau yang dapat Anda beli baik melalui online shop ataupun toko kamera. Harga satu flash waktu itu tidak lebih dari Rp.1.000.000,- sedangkan ttrigger flash kalau tidak salah sekitar Rp.300.000,- sedangkan easy foldable softbox mungkin tidak lebih dari Rp.200.000,- pada waktu saya beli.

You can say all the additional lighting gears are quite cheap and you can buy them from online shop or almost all camera store nearby. As I remember one unit of Yongnuo speedlite flash was under $100 while the flash trigger I think around $20 and the easy foldable softbox was not more than $20

Lihat aerial video di Curug Rahong, Garut Selatan disini:

Watch the aerial video of Rahong Waterfall in Southern Garut here:



Erica Putri
Patrishiela Tan
Erica Putri
Dengan peralatan yang terbatas biasanya kita tertantang untuk membuat sesuatu yang lebih keren, isi kepala lebih 'muter' gimana caranya dengan keterbatasan bisa menghasilkan yang bagus dan kita sendiri bisa puas dengan hasilnya.

Usually with the gear limitations people tend to think more on how to creating something that is way more cooler, way more creative and eager to do more effort in creating things so that one would be satisfied with the results.

Lihat juga video udara Goa Kelelawar di Pantai Ranca Buaya disini:

Watch also, aerial video of Bat Cave in Ranca Buaya Beach here:



Patrishiela Tan dan Erica Putri
Patrishiela Tan
Erica Putri

Lensa Canon 24-70mm f/2.8 adalah salah satu lensa yang enak dipakai untuk saya traveling dan foto portrait dengan bukaan yang lebar dan hasil gambar yang tajam sampai ke sudut frame jika tidak ingin membawa terlalu banyak lensa. Kalau ada kru atau asisten boleh lah bawa lensa lain yang lebih lengkap.

I love the Canon 24-70mm f/2.8, I can bring the lens while traveling and I can get wide angle shots (with full frame sensor) and portrait shots and also the macro feature from the lens. It is sharp from side to side of the frame. But if you have assistant coming along with you, you can always bring another lens that suits you more.

Erica Putri dan Patrishiela Tan
Silahkan klik dan beli peralatan yang saya sebut tadi pada tautan dari gambar-gambar ini:

You can click and buy some of the gear that I also used by clicking these images.


       
Otto Ferdinand Otto Ferdinand Author

Unboxing and Review: Meikon Underwater Housing for Canon 5D Mark III and Sony A6300 + Camdive Fisheye Lens

Beberapa minggu  yang lalu saya membeli underwater housing merek Meikon untuk kamera mirrorless Sony A6300. Sebelumnya saya juga pernah membeli dari merek yang sama untuk kamera Canon 5D Mark III namun underwater housing tersebut hanya dapat dipakai menggunakan lensa 24-105mm pada (kurang lebih) 50mm yang mana membuat pemakaiannya tidak leluasa dan bagi saya menyulitkan bila ingin mengambil gambar lebar. Karena terbuat dari bahan plastik, kedua underwater housing Meikon ini cenderung mengambang di air walaupun sudah dimasukkan kamera di dalamnya oleh karena itu sebaiknya Anda menggunakan tali pengaman ke pergelangan tangan bila Anda tidak menggunakan dual/single handle tray. Tapi, walaupun menggunakan handle tray seperti yang saya pakai menurut saya sebaiknya Anda juga menggunakan tali pengaman yang dapat Anda pakai di pergelangan tangan atau dikaitkan ke BCD jika sambil scuba diving.

Few weeks ago I bought the Meikon underwater housing for mirrorless Sony A6300. And before that I also bought the Meikon Canon 5D Mark III but unfortunately this housing can only be used with 24-105mm lens in around 50mm focal length which made it not so useful for me if I want a wide angle pictures. These two housings are made of plastic and its very buoyant even with the camera inside it so you're going to need a hand strap if you're not using single/dual handle tray. Even if you're using the single/dual handle tray like the one I used from ultralight, I still think you're gonna need hand strap or safety lanyard that you can clip it onto your scuba BCD.

Review of Meikon Sony A6300 underwater housing
Berbicara sedikit tentang Meikon Canon 5D Mark III, satu hal lagi yang kurang saya suka yaitu tidak semua tombol dan menu dapat diakses jadi cukup menyulitkan untuk melakukan pengaturan ketika sudah di bawah air. Berbeda dengan Meikon Canon 5D Mark III, Meikon Sony A6300 memberikan akses penuh ke tombol dan menu kamera sehingga tidak masalah bagi saya untuk melakukan pengaturan di bawah air. Seperti halnya underwater housing lain yang lebih mahal dan menawarkan lebih banyak pilihan aksesoris dan penggunaan lensa seperti Ikelite, Sea&Sea, Aquatica, Seacam, Subal, Recsea, Nauticam, dll; Meikon untuk Sony A6300 juga menawarkan akses tombol dan menu yang lengkap hanya saja tetap ada keterbatasan yaitu kita tidak bisa membeli aksesoris  dome port tambahan untuk ditukar-pasang ke housing body jika ingin menggunakan lensa lain, misal mau pakai lensa macro. Saya juga memakai Ikelite Sony A6300 dan saya bisa mengganti lensa dari wide ke macro dengan dome port yang berbeda yang dapat Anda beli disini.

A little about the Meikon Canon 5D Mark III, one thing that I do not like that I can not access all the menu and buttons so it's difficult to change the camera settings while under the water. Differ from the Meikon Canon 5D Mark III, the Meikon Sony A6300 give access to all menu and buttons which I like and I do not have any problems to change the camera settings while under the water. Just like any other underwater housings such as Ikelite, Sea&Sea, Aquatica, Seacam, Subal, Recsea, Nauticam etc; Meikon Sony A6300 offers you the same all access to the camera menu and buttons but you still can't buy additional dome ports if you want to use another lens with the camera, for instance if you want to use macro lens. I'm also using the Ikelite Sony A6300 and I can change from wide angle to macro by using a different dome ports which you can buy here.



Untuk ketahanan, belajar dari pengalaman menggunakan Meikon Canon 5D Mark III setelah beberapa kali penyelaman (dibawah 50 kali) akhirnya housing ini menyerah dan terjadi retakan pada sisi atas housing tepatnya di area pengunci housing. Walaupun begitu, karena darurat dan sedang jauh dari kota (saya sedang menyelam di Buton Tengah) waktu itu housing ini tetap dipakai menyelam ke kedalaman 20-25 meter dan untungnya tidak bocor/pecah. Bayangkan jika housing bocor/pecah di dalam laut, melayang sudah Canon 5D Mark III dan lensa 24-105mm seharga kurang lebih 43.000.000! Hahahaha. Akhirnya setelah pulang dari Buton Tengah, saya putuskan untuk memberikan pensiun dini ke Meikon Canon 5D Mark III. Menurut saya untuk underwater housing kelas kamera DSLR dengan bodi yang lebih besar sebaiknya Anda membeli underwater housing minimal sekelas Ikelite. Saya pernah memakai dan nyobain Ikelite Canon 5D Mark II, Ikelite Canon 7D, Sea&Sea Canon 7D, Ikelite Canon 5D Mark III dan Subal Sony A7RII. Saya juga pernah memakai housing buatan Canon untuk Canon G12 dan G16 dan saat ini Canon punya saingan untuk lini underwater housing untuk kamera digital pocket mereka yaitu Meikon.

In a matter of durability, learning from my experience using the Meikon Canon 5D Mark III after few dives (no more than 50 dives) the housing finally gave up on me after a crack on top side near the locking area. Even so, we were far away from the city at that time and we have to dive so we decided to do it anyway with the crack on the housing. We dove around 20-25 meters and luckily the housing didn't broke. You can imagine losing $3,300 Canon 5D Mark III + 24-105mm lens! Hahaha. After I got back from Buton Tengah then I decided not to use the Meikon Canon 5D Mark III no more. If you want DSLR camera housing, I suggest you buy at least the Ikelite. I've used Ikelite Canon 5D Mark II, Ikelite Canon 7D, Sea&Sea Canon 7D, Ikelite Canon 5D Mark III and Subal Sony A7RII. I've also used underwater housings for Canon pocket and digital cameras made by Canon itself and I think Meikon is in the competition with Canon lines of underwater housings.



Kembali ke Meikon Sony A6300, bagi saya ini adalah solusi yang jauh lebih murah daripada merek Ikelite dan merek lainnya bagi para penggemar fotografi bawah air tentu saja dengan keterbatasan yang saya sebutkan diatas tadi. Karena bentuk bodi housing yang kecil dan hanya membutuhkan satu titik penguncian tanpa ada harus penguncian dengan model yang dibaut seperti pada housing DSLR, menurut saya lini underwater housing Meikon pada pocket & digital camera serta small-sized mirrorless cameras akan dapat bertahan lama dan akan banyak dipakai kedepannya oleh para penggemar fotografi bawah air dan pejalan yang suka nyemplung!

Back to Meikon Sony A6300, it is a much cheaper solution compared to Ikelite or any other professional underwater housing but of course with the limitation I've mentioned above. Because of the small housing body and only one locking part without any bolted housing body on the body like the Meikon Canon 5D Mark III I think the Meikon lines of pocket and mirrorless housing will make a serious competition in the market.

Trip pertama kemarin ke Pulau Bawean di Jawa Timur adalah trip pertama bagi Meikon Sony A6300 saya ini. Housing dipakai menyelam ke kedalaman sekitar 10-15 meter dan tidak ada masalah sama sekali. Filter warna merah dari Camdive tidak kami pakai karena penyelaman dangkal dan masih cukup cahaya matahari masuk ke dalam laut dan menurut saya kamera Sony A6300 telah dibekali sistem auto underwater white balance yang sangat baik selama air cukup jernih, jarak pengambilan gambar tidak terlalu jauh dan pencahayaan cukup.

Last week trip to Bawean Island in East Java is the first trip for my Meikon Sony A6300. It was used in 10-15 meters depth by scuba diving and there's no problem at all. We didn't use the red filter from Camdive since it was a rather shallow dive and there's enough light under the water and also I think that the Sony A6300 has a good auto underwater white balance as long as the water is clear enough, the distance to your object is not too far and you get enough light.



Yang masih saya pertanyakan adalah, seberapa ketahanan Meikon Sony A6300 jika dipakai untuk menyelam bebas? Apa bedanya dengan scuba diving? Jika scuba diving otomatis profil penyelaman Anda akan seperti ini:

- entry - turun ke kedalaman - safety stop - naik ke permukaan

sehingga housing hanya mendapatkan perbedaan tekanan yang signifikan hanya dua kali dalam satu penyelaman yaitu ketika pertama dari entry kemudian turun ke kedalaman dan ketika dari kedalaman naik ke permukaan, sedangkan jika Anda menggunakan ketika menyelam bebas (tanpa tabung udara) maka otomatis housing akan menerima banyak perubahan tekanan yang signifikan setiap kali Anda turun ke kedalaman dan naik ke permukaan terutama bila Anda sering melakukan selam bebas ke kedalaman lebih dari 20 atau 30 meter. Pertanyaannya, apakah housing Meikon Sony A6300 akan selamat dari perubahan tekanan yang sangat sering? Mungkin setelah penyelaman ke 100 nanti baru saya bisa kasih jawaban atau mungkin Anda sudah melakukannya? Silahkan komen di blog ini atau di video saya di youtube.

One thing remain unanswered for now is how durable is this Meikon Sony A6300 if you're using it while freediving? What's difference with scuba diving? If you're scuba diving then you dive profile pretty much would be like this:

- entry - descend to deep water - safety stop - surfacing

so your housing will only undergo a significant change of pressure two times in one dive while descending to the deep and while ascending to the surface. Meanwhile if you're using the housing while freediving, it will undergo many many times of pressure changes since you're going to the deep and surfacing back and forth in short amount of time. And if you're a deep diver (say 20-30 meters or more) can you imagine the pressure changes that the housing need to get through? I can't answer it now, maybe later after more than hundred of dives I can give you the answer. If you already have the answer, please leave your comment on this blog or on my youtube video.

Jadi, kesimpulannya jika Anda ingin foto bawah air baik di kolam maupun di laut dan membutuhkan underwater housing yang lebih murah Anda bisa coba lini housing Meikon. Jika Anda di Indonesia, Anda bisa pesan housing Meikon disini. Jika Anda di luar Indonesia bisa membelinya lewat Amazon melalui tautan ini. Menurut saya housing Meikon untuk kamera pocket dan mirrorless sangat cocok bagi para penggiat fotografi bawah air terutama fotografer pre wedding yang hanya memakainya di kolam.

As a conclusion, if you need much cheaper underwater housing to be used in the pool or open water you can try the Meikon underwater housings. If you're in Indonesia you can order them here but if you're outside of Indonesia you can order it from Amazon from this link here. I think Meikon underwater housings is the best buy solution for wedding and pre wedding photographers who will only use the housing in the pool or shallow water.

Jika Anda juga membeli dan menggunakan underwater housing Meikon, silahkan komen di blog ini atau di video youtube saya untuk menambah wawasan dan melengkapi informasi bagi teman-teman lain yang membutuhkan rekomendasi dan tinjauan mengenai produk ini.

If you're also using the Meikon underwater housing, please leave a comment in this blog or my youtube video to add more review for people who need more information about this product.

Selamat menyelam!

See you underwater!


Otto Ferdinand Otto Ferdinand Author

Photographing Patrishiela and Fatya in Yogyakarta using Sony A6300 and Godox AD600BM | Motret Patrishiela dan Fatya di Yogyakarta menggunakan Sony A6300 dan Godox AD600BM

This post is just a photo compilation of two models from Para Petualang Cantik, a tv program about beautiful girls traveling into beautiful places in Indonesia and outside of Indonesia. These photos were taken around two weeks ago while on our trip to Yogyakarta. I was using the Sony A6300 and Godox AD600BM mobile flash with Godox X1s wireless trigger.


Fatya Ginanjarsari
Tulisan kali ini hanya merupakan kompilasi beberapa foto dari model dan pembawa acara Para Petualang Cantik, sebuah program tv mengenai para gadis cantik yang bertualang ke tempat-tempat indah di Indonesia dan luar Indonesia. Foto-foto diambil sekitar 2 minggu lalu dalam perjalanan kami ke Yogyakarta. Saya menggunakan Sony A6300 dan Godox AD600BM serta trigger nirkabel Godox X1s.


Patrishiela Tan

Fatya Ginanjarsari
 So far, this small-lightweight sony camera is quite reliable for outdoor photography like this one. It has 24mp photo in 6000 x 4000pxl dimension. I'm using it with its Sony 16-50mm kit lens. They're ok but sometimes when I'm using big aperture the autofocus is not responding so well that one or two times I have to switched from manual to auto focus (using the quick access button) then the autofocus will work again. Maybe anyone else is having the same issue? Or maybe Sony want to take a look at this? I don't know.

Fatya Ginanjarsari (left) and Patrishiela Tan (right)
Fatya Ginanjarsari (left) and Patrishiela Tan (right)
Sejauh ini, kamera kecil dan ringann ini cukup mumpuni untuk motret luar ruangan seperti ini. Dengan 24mp dan resolusi maksimal 6000x4000pxl dan format raw. Saya menggunakannya dengan lensa bawaan Sony 16-50mm. Kamera bagus tapi kadang kalau lagi tutup aperture si autofocus tidak bekerja dengan baik dankadang sekali-dua kali saya harus ganti mode dari manual ke fokus auto supaya fokus autonya kembali bekerja. Apakah yang lain ada yang mengalami hal yang serupa? Atau mungkin Sony mau ngecek dan cari tau ada apa dengan kameranya ini?

Fatya Ginanjarsari
Patrishiela Tan
Well here are the photos.

Silahkan dilihat foto-fotonya.

Thanks to both of the models, the guy who helped me with the light and the whole Para Petualang Cantik team.

Terima kasih kepada kedua model, mas yang bantu pegangin lampu dan seluruh tim Para Petualang Cantik.



                       
Otto Ferdinand Otto Ferdinand Author

How much longer can Pramuka Island survive as a dive site? | Berapa lama lagi Pulau Pramuka bertahan sebagai tempat wisata selam?

Pramuka Island is part of Jakarta and located around 49 km according to google maps from Marina, Ancol. If you live in Jakarta then you might already know that the beach in Ancol Bay is very dirty (at least to me), I wouldn't swim or dive there. So for Jakartans, Pramuka Island the Thousand Islands area is the closest dive site with lots of homestay options, boat transportations, and any other accommodations. You can take early morning speedboat transportation from Marina Ancol, it will cost you around 300-400 hundreds rupiahs vv while if you take the traditional boat from Muara Angke it cost you cheaper but you will have to spend more time in the sea since it's slower than the speedboat but you can try as an adventure and maybe take some pictures of the fish market in Muara Angke.

Pulau Pramuka adalah bagian dari Jakarta dan terletak sekitar 49 km dari Marina Ancol menurut google maps. Jika Anda tinggal di Jakarta maka kemungkinan besar Anda sudah tahu dan pernah lihat bagaimana kotornya pantai Ancol (setidaknya bagi saya itu kotor), saya pribadi ga akan berenang atau menyelam disitu. Jadi, untuk orang Jakarta, Pulau Pramuka dan area Kepulauan Seribu merupakan daerah untuk menyelam yang terdekat yang dapat diakses dari Jakarta dengan pilihan penginapan hoemstay yang cukup banyak, transportasi dan fasilitas serta akomodasi lainnya. Anda bisa ke pulau dengan jasa penyebrangan kapal cepat dari Marina Ancol atau kapal kayu tradisional dari Muara Angke. Kapal cepat lebih mahal dibanding kapal tradisional dari Muara Angke tapi jika Anda ingin sedikit bertualang Anda bisa mencoba menyebrang lewat Muara Angke dan mungkin motret pasar ikan di pagi hari.

You can watch an aerial and underwater video of Pramuka Island's sea here:

Anda bisa lihat video udara dan bawah air dari sekitar Pulau Pramuka disini:



I started scuba diving around 2010 with my friends, and I love this new world ever since my friend lent me his underwater camera  to try and take some photos. Later after I was certified I went scuba diving quite extensively because this new hobby supports my work, I remember the first time I step my foot in Raja Ampat with the Teroka team in 2011 for underwater filming, it was amazing! As amazing as my first time ever to encounter the gentle giants in 2012, whale sharks in Nabire, West Papua for underwater filming for WWF Indonesia Foundation, magic!

Saya mulai menyelam sekitar tahun 2010 bersama teman-teman dan saya langsung suka kegiatan ini begitu salah satu teman saya meminjamkan kamera bawah airnya untuk foto-foto di bawah. Setelah mendapatkan sertifikat menyelam saya, saya lumayan sering melakukan penyelaman baik untuk hobby atau untuk bekerja. Saya ingat pertama kali saya menginjakkan kaki di tanah Raja Ampat pada tahun 2011, indah sangat! Sama indahnya ketika saya pertama kali mengambil video bawah air hiu paus di Nabire pada tahun 2012 untuk Yayasan WWF Indonesia, menakjubkan!

You can watch the whale sharks video here:

Anda bisa lihat video hiu paus disini:



Anyway, I love to scuba dive, I love being underwater, in the ocean with friends even if its for work. I even get my freediving certification in 2015 from my instructor, a good friend of mine, Jason Hakim, you can contact him if you want to learn freediving appropriately here. Or pay a visit to Apnea Culture website which owned also by one of my good friend here. Both of them are certified instructor and please don't ruin this sport by doing it irresponsibly, learn it appropriately, please.

Saya suka menyelam, saya suka berada di laut bersama teman atau bahkan jika untuk bekerja. Saya juga akhirnya belajar menyelam bebas dan mendapatkan sertifikat saya pada tahun 2015 dari instruktur saya yang juga seorang teman baik saya, Jason Hakim, Anda dapat menghubunginya disini. Atau kunjungi juga website Apnea Culture, sebuah sekolah menyelam bebas milik teman baik saya juga yaitu Mikhael Dominico dan Anda bisa menghubunginya disini. Mereka berdua adalah instruktur bersertifikat, pelajari selam bebas dengan baik dan sesuai aturan melalui instruktur beneran, jangan mengotori olahraga yang menyenangkan ini dengan melakukannya sembarangan dan tanpa aturan yang akan dapat mencelakai diri Anda sendiri.

Enough with the opening speech, what I want to share is Indonesia is the second biggest marine pollutant after China as reported by The Jakarta Post in 2015 and in the same year The Jakarta Post also reported that Indonesia is in its state waste emergency. I once helped a local NGO named Green Smile Indonesia to held a beach and underwater clean up in Pramuka Island in 2013 with hundreds of enthusiastic participants and around 100 of them are scuba divers who collected tons of garbage from the seabed around the Pramuka Island and its only from small part of the area near the island's harbor. And it's been four years now. Last month I went there again to join the same event held by KFC and Divers Clean Action in Pramuka Island only in a smaller scale but they collected lots of trash from the seabed as well. You can find the data of the event here.

Cukup perkenalannya, yang saya ingin bagikan adalah bahwa Indonesia adalah kedua teratas penyumbang limbah ke lautan setelah China seperti yang dituliskan oleh Jakarta Post pada tahun 2015 dan pada tahun yang sama Jakarta Post juga menuliskan bahwa Indonesia dalam darurat limbah. Pada tahun 2013 saya membantu sebuah lembaga nirlaba bernama Green Smile Indonesia untuk mengadakan bersih pantai dan laut yang diadakan di Pulau Pramuka dan melibatkan ratusan peserta yang mana sekitar 100 diantaranya adalah penyelam melakukan bersih sampah di bawah laut sekitar Pulau Pramuka. Para penyelam ini mengumpulkan beberapa ton sampah. Empat tahun kemudian tepatnya bulan lalu di tahun 2017 ini saya kembali ikut dalam kegiatan serupa yang diadakan Divers Clean Action dan KFC Indonesia hanya saja dalam skala lebih kecil namun mereka juag berhasil mengumpulkan banyak sekali sampah dari pantai dan dari bawah laut. Anda bisa melihat laporan aksi mereka disini.

Watch a news coverage about the trash I made for MSNBC here.

Lihat video liputan tentang sampah yang saya buat untuk MSNBC disini.

We know that this is about attitude and basic education from our home. If we can start to educate our family starting from you and your kids, it would (at least) reduce the amount of trash dumped irresponsibly on daily basis around their social circle and it would get better if you can persuade your family member and your friend to do the same and spread the movement, spread the attitude to their closest social circle. Consider it as a good virus that you MUST pass on to others and you get addicted just to spread it around, you get that proud and happy feeling turning someone from being ignorant into a caring person regarding this waste issue. Taking it seriously when it's about trash and waste.

Kita semua tahu ini adalah soal sikap dan pendidikan mendasar dari rumah masing-masing. Jika kita bisa mulai mengedukasi anggoya keluarga mulai dari Anda dan anak-anak Anda, paling tidak menurut saya dapat mengurangi jumlah sampah yang dibuang sembarangan setiap harinya di lingkungan sekitar Anda masing-masing. Dan akan lebih baik lagi jika Anda bisa membujuk teman dan kenalan Anda juga untuk tidak membuang sampah sembarangan, tularkan sikap ini seperti virus yang baik dan Anda merasa senang dan bangga menularkannya ketika seseorang berubah dari tidak peduli hingga menjadi orang yang peduli dengan masalah sampah ini.

Spread this message, spread the virus, spread the attitude in your own way. Make it personal, one to one communication to make it more effective. Why? Because five or ten years from now, I still want to be able to enjoy the blue and turquoise water without trash or waste near me and I believe you want the same too. Because I can guarantee you wouldn't want to swim in a sea full of waste, dark colored and stinky like the one you can find in Ancol Bay.

Tularkan dan sebarkan sikap ini dengan cara Anda sendiri, ajak teman dan kenalan bicara satu lawan satu agar lebih efektif. Kenapa? Karena lima atau sepuluh tahun dari sekarang, saya masih mau liahat laut yang bersih, laut yang biru dan turuoise tanpa ada sampah ketika saya snorkeling atau menyelaminya dan saya yakin Anda juga menginginkan hal yang sama. Karena saya jamin Anda juga ga mau berenang di laut yang hitam, kotor, dan berbau seperti dekat pantai Ancol.

This is how the sea near Pramuka Island look like from a drone point of view, 2017. Hoping it will last or even become better years from now.


And if you happen to able to gather some friends to do underwater clean up, you can watch this video on how to do it safely:


Never dive alone, buddy! Anda take care of our ocean!

Jangan pernah menyelam sendirian, kawan! Dan jagalah laut kita!
Otto Ferdinand Otto Ferdinand Author

Motret Mbah Ijem Yang Menghuni Goa Langse 49 Tahun | Photographing Mbah Ijem The Cavewoman

Beberapa minggu yang lalu saya melihat seorang mantan produser saya mengunggah hasil liputan salah satu reporternya ke instagram, sebuah liputan mengenai seorang wanita tua bernama Sukijem atau akrab disapa Mbah Ijem yang tinggal di Goa Langse di pesisir selatan Pulau Jawa dekat D.I. Yogyakarta. Saya pun tertarik untuk datang kesana untuk motret sosok tersebut. Kebetulan tak lama lagi saya akan ada trip ke Yogyakarta bersama tim Para Petualang Cantik jadi kenapa tidak sekalian perpanjang waktu disana dan menyempatkan diri mengunjungi Mbah Ijem di Goa Langse?

Mbah Ijem dan Bambang anjing peliharaan sekaligus teman di Goa Langse
Few weeks ago I saw an instagram post from my ex-producer, it's a feature story about an old woman named Sukijem or also known as Mbah Ijem who have been living in Langse cave located in the southern coastline of Java Island, in the area of Special Region of Yogyakarta. I was interested to take photo of her. Coincidentally I'm about to travel to Yogya few days later with the Para Petualang Cantik team so I decided why not extend there for a few days to take the photo?

Membawa kayu bakar menuruni tebing, terkadang Mbah Ijem harus bergantung pada batang kayu yang tersedia
Lalu saya minta bantuan narahubung kepada mantan produser saya dan kepada reporternya, setelah itu saya mengatur janji kepada narahubung lokal yang bisa membantu untuk turun ke Goa Langse dan bertemu Mbah Ijem. Ternyata tim PPC juga mengunjungi Mbah Ijem tapi saya tidak memotret Mbah Ijem pada waktu itu karena masih dalam kapasitas bekerja dalam tim PPC. Setelah selesai pekerjaan dengan tim Para Petualang Cantik saya mengantar mereka ke bandara lalu langsung menuju Goa Langse.

And then I asked my ex producer and his reporter on how can I get there and where should I contact the local guide? And then I set up time to meet the local guide and asked him to accompany me to go down to the cave. Well somehow, the PPC team is also going there but I didn't take the photo while with the team because it would be unprofessional. So after I finished the trip with PPC team, I dropped them off at the airport and then I go straight to the cave again.
Tebing tinggi yang dilewati Mbah Ijem berbahaya, jika jatuh batu karang dan laut yang menyambut

Mbah Ijem berbicara dengan Bambang anjingnya
Beruntung sekali ketika sampai disana, Mbah Ijem baru saja selesai mengumpulkan kayu bakar dan dia sedang menggendongnya dengan diikat kain di punggungnya, saya pun langsung turun dari motor dan minja ijin kepada si Mbah untuk diperbolehkan mengambil gambarnya, si Mbah pun tertawa dan tersenyum serta memperbolehkan saya untuk mengintilinya turun dan mengambil gambarnya sampai ke goa. Perjalanan si Mbah turun dan sedikit behind the scenes waktu saya motret si Mbah dibantu Pak Supriyadi bisa dilihat di video ini:

I consider myself very lucky at that time because I met Mbah Ijem right before she's going down to the cave after collecting firewoods. I jumped off the motorcycle and asked her if I can come along with her down to the cave and take pictures of her and then she laughed and said yes. You can see how she climb down the steep cliffs in this video along with a short behind the scenes video when I took her photo:



Terlihat jelas di video bahwa si Mbah harus berhati-hati turun, kadang dia harus mengatur ulang posisi kayu bakar di punggungnya agar tidak tersangkut atau talinya kendor. Jalan turun ke bawah terbilang sulit dan berbahaya menurut saya, apalagi untuk Mbah Ijem yang sudah berusia 68 tahun dengan bawaan seperti itu tapi mungkin karena dia sudah melakukan ini hampir setengah abad, tidak terlalu masalah untuk turun dengan membawa beban kayu bakar di punggung. Kadang dia harus berpegang ke dahan dan ranting, ke batang kayu, tangga, dan pelan-pelan berjalan di tebing batu yang sempit. Dan menurut orang sekitar, beberapa waktu yang lalu ada pengunjung yang terjatuh di tebing ini dan meninggal, jadi itu membuat saya semakin hati-hati untuk turun dan naik tebing.

As you can see in the video that she have to be very careful on her way down, sometimes she have to reposition the firewoods on her back in order to avoid them got stuck. To me, it's quite difficult an dangerous for 68 years old Ijem, but maybe because she has been doing this almost half a century she's used to it even with loads of firewoods on her back. Sometimes she hangs on to the trees, the stairs and walk carefully on a narrow pathway on the cliff. According to locals, recently a man fell down the cliff and died and it made me even more careful following her down.

Mbah Ijem duduk di 'warung' tempat dimana ia memasak untuk para pengunjung goa
Setelah sampai di bawah saya melakukan sedikit wawancara dengan Mbah Ijem, Mbah Ijem lumayan kooperatif walau sepertinya dia agak malu untuk terus melihat ke arah kamera tapi secara keseluruhan menurut Pak Supriyadi sang pemandu lokal saya sangat beruntung kali ini Mbah Ijem sangat bersahabat, mau sedikit diarahkan dan diajak ngobrol sampai ketawa dan bercanda. Menurut saya, bisa ketemu dan mengambil gambar si Mbah dari atas tebing membawa kayu bakar sudah sangat beruntung. Saya beruntung dua kali!

As we arrived in the cave I interviewed her for a while, she was being very cooperative even though I think she was a  bit shy to look straight to the camera but overall according to Mr. Supriyadi my local guide; I am so lucky because it's unusual for Mbah Ijem to act like this, I can talk to her, ask her to be photograher, and laugh almost every time we talk. Well, to me it's a double lucky because just to be able to take her pictures while climbing down the cliff with firewoods is already a big luck!

Mbah Ijem di mulut Goa Langse
Ada satu hal yang tidak dapat saya pastikan dengan mantap, yaitu tinggi tebing dari bibir pantai di depan goa tempat si Mbah Ijem tinggal. Beberapa artikel menuliskan 250, 300, bahkan 400 meter. Pemandu lokal kadang bilang 300 atau 350 meter. Menurut saya tinggi tebing sekitar 100-150 meter karena saya menerbangkan drone di depan goa, terbang ke atas hingga atas tebing kelihatan dan data penerbangan menunjukkan tinggi drone hanya 86 meter. Dengan tambahan mulut goa ke pantai dibawahnya serta sudut kamera drone yang lebar, jadi asumsi saya tingginya sekitar 100-150 meter. Kalau ada yang sudah pernah mengukur atau terima data pastinya, silahkan dikonfirmasi.

There's one thing that I can not confirm for sure, some articles wrote that the height of cliff is around 250-400 meters but from my flight data on my drone, it's only around 86m with additional more gap to the shoreline and few meters because the wide angle view of my drone camera. So I guess it's only around 100-150 meters high. Well, if anyone can confirm the exact height please do tell.

Mbah Ijem punya 'rumah' dengan halaman Samudera Hindia dan pemandangan matahari terbenam 

Terima kasih sudah membaca tulisan saya dan menonton video di kanal youtube saya! Datang lagi di unggahan saya lainnya!

Thank you for reading and for watching my youtube channel! Come back another post!

Gear I'm using:
- Sony A6300
- Godox AD600BM
- Godox X1Ts
- Sony UWP V1
- DJI Osmo



                       


   
Otto Ferdinand Otto Ferdinand Author

Follow me on instagram

Follow me on instagram

Follow me on twitter

Follow me on twitter