My Work.
from Land, Aerial and Underwater

Unboxing and Review: Meikon Underwater Housing for Canon 5D Mark III and Sony A6300 + Camdive Fisheye Lens

Beberapa minggu  yang lalu saya membeli underwater housing merek Meikon untuk kamera mirrorless Sony A6300. Sebelumnya saya juga pernah membeli dari merek yang sama untuk kamera Canon 5D Mark III namun underwater housing tersebut hanya dapat dipakai menggunakan lensa 24-105mm pada (kurang lebih) 50mm yang mana membuat pemakaiannya tidak leluasa dan bagi saya menyulitkan bila ingin mengambil gambar lebar. Karena terbuat dari bahan plastik, kedua underwater housing Meikon ini cenderung mengambang di air walaupun sudah dimasukkan kamera di dalamnya oleh karena itu sebaiknya Anda menggunakan tali pengaman ke pergelangan tangan bila Anda tidak menggunakan dual/single handle tray. Tapi, walaupun menggunakan handle tray seperti yang saya pakai menurut saya sebaiknya Anda juga menggunakan tali pengaman yang dapat Anda pakai di pergelangan tangan atau dikaitkan ke BCD jika sambil scuba diving.

Few weeks ago I bought the Meikon underwater housing for mirrorless Sony A6300. And before that I also bought the Meikon Canon 5D Mark III but unfortunately this housing can only be used with 24-105mm lens in around 50mm focal length which made it not so useful for me if I want a wide angle pictures. These two housings are made of plastic and its very buoyant even with the camera inside it so you're going to need a hand strap if you're not using single/dual handle tray. Even if you're using the single/dual handle tray like the one I used from ultralight, I still think you're gonna need hand strap or safety lanyard that you can clip it onto your scuba BCD.

Review of Meikon Sony A6300 underwater housing
Berbicara sedikit tentang Meikon Canon 5D Mark III, satu hal lagi yang kurang saya suka yaitu tidak semua tombol dan menu dapat diakses jadi cukup menyulitkan untuk melakukan pengaturan ketika sudah di bawah air. Berbeda dengan Meikon Canon 5D Mark III, Meikon Sony A6300 memberikan akses penuh ke tombol dan menu kamera sehingga tidak masalah bagi saya untuk melakukan pengaturan di bawah air. Seperti halnya underwater housing lain yang lebih mahal dan menawarkan lebih banyak pilihan aksesoris dan penggunaan lensa seperti Ikelite, Sea&Sea, Aquatica, Seacam, Subal, Recsea, Nauticam, dll; Meikon untuk Sony A6300 juga menawarkan akses tombol dan menu yang lengkap hanya saja tetap ada keterbatasan yaitu kita tidak bisa membeli aksesoris  dome port tambahan untuk ditukar-pasang ke housing body jika ingin menggunakan lensa lain, misal mau pakai lensa macro. Saya juga memakai Ikelite Sony A6300 dan saya bisa mengganti lensa dari wide ke macro dengan dome port yang berbeda yang dapat Anda beli disini.

A little about the Meikon Canon 5D Mark III, one thing that I do not like that I can not access all the menu and buttons so it's difficult to change the camera settings while under the water. Differ from the Meikon Canon 5D Mark III, the Meikon Sony A6300 give access to all menu and buttons which I like and I do not have any problems to change the camera settings while under the water. Just like any other underwater housings such as Ikelite, Sea&Sea, Aquatica, Seacam, Subal, Recsea, Nauticam etc; Meikon Sony A6300 offers you the same all access to the camera menu and buttons but you still can't buy additional dome ports if you want to use another lens with the camera, for instance if you want to use macro lens. I'm also using the Ikelite Sony A6300 and I can change from wide angle to macro by using a different dome ports which you can buy here.



Untuk ketahanan, belajar dari pengalaman menggunakan Meikon Canon 5D Mark III setelah beberapa kali penyelaman (dibawah 50 kali) akhirnya housing ini menyerah dan terjadi retakan pada sisi atas housing tepatnya di area pengunci housing. Walaupun begitu, karena darurat dan sedang jauh dari kota (saya sedang menyelam di Buton Tengah) waktu itu housing ini tetap dipakai menyelam ke kedalaman 20-25 meter dan untungnya tidak bocor/pecah. Bayangkan jika housing bocor/pecah di dalam laut, melayang sudah Canon 5D Mark III dan lensa 24-105mm seharga kurang lebih 43.000.000! Hahahaha. Akhirnya setelah pulang dari Buton Tengah, saya putuskan untuk memberikan pensiun dini ke Meikon Canon 5D Mark III. Menurut saya untuk underwater housing kelas kamera DSLR dengan bodi yang lebih besar sebaiknya Anda membeli underwater housing minimal sekelas Ikelite. Saya pernah memakai dan nyobain Ikelite Canon 5D Mark II, Ikelite Canon 7D, Sea&Sea Canon 7D, Ikelite Canon 5D Mark III dan Subal Sony A7RII. Saya juga pernah memakai housing buatan Canon untuk Canon G12 dan G16 dan saat ini Canon punya saingan untuk lini underwater housing untuk kamera digital pocket mereka yaitu Meikon.

In a matter of durability, learning from my experience using the Meikon Canon 5D Mark III after few dives (no more than 50 dives) the housing finally gave up on me after a crack on top side near the locking area. Even so, we were far away from the city at that time and we have to dive so we decided to do it anyway with the crack on the housing. We dove around 20-25 meters and luckily the housing didn't broke. You can imagine losing $3,300 Canon 5D Mark III + 24-105mm lens! Hahaha. After I got back from Buton Tengah then I decided not to use the Meikon Canon 5D Mark III no more. If you want DSLR camera housing, I suggest you buy at least the Ikelite. I've used Ikelite Canon 5D Mark II, Ikelite Canon 7D, Sea&Sea Canon 7D, Ikelite Canon 5D Mark III and Subal Sony A7RII. I've also used underwater housings for Canon pocket and digital cameras made by Canon itself and I think Meikon is in the competition with Canon lines of underwater housings.



Kembali ke Meikon Sony A6300, bagi saya ini adalah solusi yang jauh lebih murah daripada merek Ikelite dan merek lainnya bagi para penggemar fotografi bawah air tentu saja dengan keterbatasan yang saya sebutkan diatas tadi. Karena bentuk bodi housing yang kecil dan hanya membutuhkan satu titik penguncian tanpa ada harus penguncian dengan model yang dibaut seperti pada housing DSLR, menurut saya lini underwater housing Meikon pada pocket & digital camera serta small-sized mirrorless cameras akan dapat bertahan lama dan akan banyak dipakai kedepannya oleh para penggemar fotografi bawah air dan pejalan yang suka nyemplung!

Back to Meikon Sony A6300, it is a much cheaper solution compared to Ikelite or any other professional underwater housing but of course with the limitation I've mentioned above. Because of the small housing body and only one locking part without any bolted housing body on the body like the Meikon Canon 5D Mark III I think the Meikon lines of pocket and mirrorless housing will make a serious competition in the market.

Trip pertama kemarin ke Pulau Bawean di Jawa Timur adalah trip pertama bagi Meikon Sony A6300 saya ini. Housing dipakai menyelam ke kedalaman sekitar 10-15 meter dan tidak ada masalah sama sekali. Filter warna merah dari Camdive tidak kami pakai karena penyelaman dangkal dan masih cukup cahaya matahari masuk ke dalam laut dan menurut saya kamera Sony A6300 telah dibekali sistem auto underwater white balance yang sangat baik selama air cukup jernih, jarak pengambilan gambar tidak terlalu jauh dan pencahayaan cukup.

Last week trip to Bawean Island in East Java is the first trip for my Meikon Sony A6300. It was used in 10-15 meters depth by scuba diving and there's no problem at all. We didn't use the red filter from Camdive since it was a rather shallow dive and there's enough light under the water and also I think that the Sony A6300 has a good auto underwater white balance as long as the water is clear enough, the distance to your object is not too far and you get enough light.



Yang masih saya pertanyakan adalah, seberapa ketahanan Meikon Sony A6300 jika dipakai untuk menyelam bebas? Apa bedanya dengan scuba diving? Jika scuba diving otomatis profil penyelaman Anda akan seperti ini:

- entry - turun ke kedalaman - safety stop - naik ke permukaan

sehingga housing hanya mendapatkan perbedaan tekanan yang signifikan hanya dua kali dalam satu penyelaman yaitu ketika pertama dari entry kemudian turun ke kedalaman dan ketika dari kedalaman naik ke permukaan, sedangkan jika Anda menggunakan ketika menyelam bebas (tanpa tabung udara) maka otomatis housing akan menerima banyak perubahan tekanan yang signifikan setiap kali Anda turun ke kedalaman dan naik ke permukaan terutama bila Anda sering melakukan selam bebas ke kedalaman lebih dari 20 atau 30 meter. Pertanyaannya, apakah housing Meikon Sony A6300 akan selamat dari perubahan tekanan yang sangat sering? Mungkin setelah penyelaman ke 100 nanti baru saya bisa kasih jawaban atau mungkin Anda sudah melakukannya? Silahkan komen di blog ini atau di video saya di youtube.

One thing remain unanswered for now is how durable is this Meikon Sony A6300 if you're using it while freediving? What's difference with scuba diving? If you're scuba diving then you dive profile pretty much would be like this:

- entry - descend to deep water - safety stop - surfacing

so your housing will only undergo a significant change of pressure two times in one dive while descending to the deep and while ascending to the surface. Meanwhile if you're using the housing while freediving, it will undergo many many times of pressure changes since you're going to the deep and surfacing back and forth in short amount of time. And if you're a deep diver (say 20-30 meters or more) can you imagine the pressure changes that the housing need to get through? I can't answer it now, maybe later after more than hundred of dives I can give you the answer. If you already have the answer, please leave your comment on this blog or on my youtube video.

Jadi, kesimpulannya jika Anda ingin foto bawah air baik di kolam maupun di laut dan membutuhkan underwater housing yang lebih murah Anda bisa coba lini housing Meikon. Jika Anda di Indonesia, Anda bisa pesan housing Meikon disini. Jika Anda di luar Indonesia bisa membelinya lewat Amazon melalui tautan ini. Menurut saya housing Meikon untuk kamera pocket dan mirrorless sangat cocok bagi para penggiat fotografi bawah air terutama fotografer pre wedding yang hanya memakainya di kolam.

As a conclusion, if you need much cheaper underwater housing to be used in the pool or open water you can try the Meikon underwater housings. If you're in Indonesia you can order them here but if you're outside of Indonesia you can order it from Amazon from this link here. I think Meikon underwater housings is the best buy solution for wedding and pre wedding photographers who will only use the housing in the pool or shallow water.

Jika Anda juga membeli dan menggunakan underwater housing Meikon, silahkan komen di blog ini atau di video youtube saya untuk menambah wawasan dan melengkapi informasi bagi teman-teman lain yang membutuhkan rekomendasi dan tinjauan mengenai produk ini.

If you're also using the Meikon underwater housing, please leave a comment in this blog or my youtube video to add more review for people who need more information about this product.

Selamat menyelam!

See you underwater!


Otto Ferdinand Otto Ferdinand Author

Photographing Patrishiela and Fatya in Yogyakarta using Sony A6300 and Godox AD600BM | Motret Patrishiela dan Fatya di Yogyakarta menggunakan Sony A6300 dan Godox AD600BM

This post is just a photo compilation of two models from Para Petualang Cantik, a tv program about beautiful girls traveling into beautiful places in Indonesia and outside of Indonesia. These photos were taken around two weeks ago while on our trip to Yogyakarta. I was using the Sony A6300 and Godox AD600BM mobile flash with Godox X1s wireless trigger.


Fatya Ginanjarsari
Tulisan kali ini hanya merupakan kompilasi beberapa foto dari model dan pembawa acara Para Petualang Cantik, sebuah program tv mengenai para gadis cantik yang bertualang ke tempat-tempat indah di Indonesia dan luar Indonesia. Foto-foto diambil sekitar 2 minggu lalu dalam perjalanan kami ke Yogyakarta. Saya menggunakan Sony A6300 dan Godox AD600BM serta trigger nirkabel Godox X1s.


Patrishiela Tan

Fatya Ginanjarsari
 So far, this small-lightweight sony camera is quite reliable for outdoor photography like this one. It has 24mp photo in 6000 x 4000pxl dimension. I'm using it with its Sony 16-50mm kit lens. They're ok but sometimes when I'm using big aperture the autofocus is not responding so well that one or two times I have to switched from manual to auto focus (using the quick access button) then the autofocus will work again. Maybe anyone else is having the same issue? Or maybe Sony want to take a look at this? I don't know.

Fatya Ginanjarsari (left) and Patrishiela Tan (right)
Fatya Ginanjarsari (left) and Patrishiela Tan (right)
Sejauh ini, kamera kecil dan ringann ini cukup mumpuni untuk motret luar ruangan seperti ini. Dengan 24mp dan resolusi maksimal 6000x4000pxl dan format raw. Saya menggunakannya dengan lensa bawaan Sony 16-50mm. Kamera bagus tapi kadang kalau lagi tutup aperture si autofocus tidak bekerja dengan baik dankadang sekali-dua kali saya harus ganti mode dari manual ke fokus auto supaya fokus autonya kembali bekerja. Apakah yang lain ada yang mengalami hal yang serupa? Atau mungkin Sony mau ngecek dan cari tau ada apa dengan kameranya ini?

Fatya Ginanjarsari
Patrishiela Tan
Well here are the photos.

Silahkan dilihat foto-fotonya.

Thanks to both of the models, the guy who helped me with the light and the whole Para Petualang Cantik team.

Terima kasih kepada kedua model, mas yang bantu pegangin lampu dan seluruh tim Para Petualang Cantik.



                       
Otto Ferdinand Otto Ferdinand Author

How much longer can Pramuka Island survive as a dive site? | Berapa lama lagi Pulau Pramuka bertahan sebagai tempat wisata selam?

Pramuka Island is part of Jakarta and located around 49 km according to google maps from Marina, Ancol. If you live in Jakarta then you might already know that the beach in Ancol Bay is very dirty (at least to me), I wouldn't swim or dive there. So for Jakartans, Pramuka Island the Thousand Islands area is the closest dive site with lots of homestay options, boat transportations, and any other accommodations. You can take early morning speedboat transportation from Marina Ancol, it will cost you around 300-400 hundreds rupiahs vv while if you take the traditional boat from Muara Angke it cost you cheaper but you will have to spend more time in the sea since it's slower than the speedboat but you can try as an adventure and maybe take some pictures of the fish market in Muara Angke.

Pulau Pramuka adalah bagian dari Jakarta dan terletak sekitar 49 km dari Marina Ancol menurut google maps. Jika Anda tinggal di Jakarta maka kemungkinan besar Anda sudah tahu dan pernah lihat bagaimana kotornya pantai Ancol (setidaknya bagi saya itu kotor), saya pribadi ga akan berenang atau menyelam disitu. Jadi, untuk orang Jakarta, Pulau Pramuka dan area Kepulauan Seribu merupakan daerah untuk menyelam yang terdekat yang dapat diakses dari Jakarta dengan pilihan penginapan hoemstay yang cukup banyak, transportasi dan fasilitas serta akomodasi lainnya. Anda bisa ke pulau dengan jasa penyebrangan kapal cepat dari Marina Ancol atau kapal kayu tradisional dari Muara Angke. Kapal cepat lebih mahal dibanding kapal tradisional dari Muara Angke tapi jika Anda ingin sedikit bertualang Anda bisa mencoba menyebrang lewat Muara Angke dan mungkin motret pasar ikan di pagi hari.

You can watch an aerial and underwater video of Pramuka Island's sea here:

Anda bisa lihat video udara dan bawah air dari sekitar Pulau Pramuka disini:



I started scuba diving around 2010 with my friends, and I love this new world ever since my friend lent me his underwater camera  to try and take some photos. Later after I was certified I went scuba diving quite extensively because this new hobby supports my work, I remember the first time I step my foot in Raja Ampat with the Teroka team in 2011 for underwater filming, it was amazing! As amazing as my first time ever to encounter the gentle giants in 2012, whale sharks in Nabire, West Papua for underwater filming for WWF Indonesia Foundation, magic!

Saya mulai menyelam sekitar tahun 2010 bersama teman-teman dan saya langsung suka kegiatan ini begitu salah satu teman saya meminjamkan kamera bawah airnya untuk foto-foto di bawah. Setelah mendapatkan sertifikat menyelam saya, saya lumayan sering melakukan penyelaman baik untuk hobby atau untuk bekerja. Saya ingat pertama kali saya menginjakkan kaki di tanah Raja Ampat pada tahun 2011, indah sangat! Sama indahnya ketika saya pertama kali mengambil video bawah air hiu paus di Nabire pada tahun 2012 untuk Yayasan WWF Indonesia, menakjubkan!

You can watch the whale sharks video here:

Anda bisa lihat video hiu paus disini:



Anyway, I love to scuba dive, I love being underwater, in the ocean with friends even if its for work. I even get my freediving certification in 2015 from my instructor, a good friend of mine, Jason Hakim, you can contact him if you want to learn freediving appropriately here. Or pay a visit to Apnea Culture website which owned also by one of my good friend here. Both of them are certified instructor and please don't ruin this sport by doing it irresponsibly, learn it appropriately, please.

Saya suka menyelam, saya suka berada di laut bersama teman atau bahkan jika untuk bekerja. Saya juga akhirnya belajar menyelam bebas dan mendapatkan sertifikat saya pada tahun 2015 dari instruktur saya yang juga seorang teman baik saya, Jason Hakim, Anda dapat menghubunginya disini. Atau kunjungi juga website Apnea Culture, sebuah sekolah menyelam bebas milik teman baik saya juga yaitu Mikhael Dominico dan Anda bisa menghubunginya disini. Mereka berdua adalah instruktur bersertifikat, pelajari selam bebas dengan baik dan sesuai aturan melalui instruktur beneran, jangan mengotori olahraga yang menyenangkan ini dengan melakukannya sembarangan dan tanpa aturan yang akan dapat mencelakai diri Anda sendiri.

Enough with the opening speech, what I want to share is Indonesia is the second biggest marine pollutant after China as reported by The Jakarta Post in 2015 and in the same year The Jakarta Post also reported that Indonesia is in its state waste emergency. I once helped a local NGO named Green Smile Indonesia to held a beach and underwater clean up in Pramuka Island in 2013 with hundreds of enthusiastic participants and around 100 of them are scuba divers who collected tons of garbage from the seabed around the Pramuka Island and its only from small part of the area near the island's harbor. And it's been four years now. Last month I went there again to join the same event held by KFC and Divers Clean Action in Pramuka Island only in a smaller scale but they collected lots of trash from the seabed as well. You can find the data of the event here.

Cukup perkenalannya, yang saya ingin bagikan adalah bahwa Indonesia adalah kedua teratas penyumbang limbah ke lautan setelah China seperti yang dituliskan oleh Jakarta Post pada tahun 2015 dan pada tahun yang sama Jakarta Post juga menuliskan bahwa Indonesia dalam darurat limbah. Pada tahun 2013 saya membantu sebuah lembaga nirlaba bernama Green Smile Indonesia untuk mengadakan bersih pantai dan laut yang diadakan di Pulau Pramuka dan melibatkan ratusan peserta yang mana sekitar 100 diantaranya adalah penyelam melakukan bersih sampah di bawah laut sekitar Pulau Pramuka. Para penyelam ini mengumpulkan beberapa ton sampah. Empat tahun kemudian tepatnya bulan lalu di tahun 2017 ini saya kembali ikut dalam kegiatan serupa yang diadakan Divers Clean Action dan KFC Indonesia hanya saja dalam skala lebih kecil namun mereka juag berhasil mengumpulkan banyak sekali sampah dari pantai dan dari bawah laut. Anda bisa melihat laporan aksi mereka disini.

Watch a news coverage about the trash I made for MSNBC here.

Lihat video liputan tentang sampah yang saya buat untuk MSNBC disini.

We know that this is about attitude and basic education from our home. If we can start to educate our family starting from you and your kids, it would (at least) reduce the amount of trash dumped irresponsibly on daily basis around their social circle and it would get better if you can persuade your family member and your friend to do the same and spread the movement, spread the attitude to their closest social circle. Consider it as a good virus that you MUST pass on to others and you get addicted just to spread it around, you get that proud and happy feeling turning someone from being ignorant into a caring person regarding this waste issue. Taking it seriously when it's about trash and waste.

Kita semua tahu ini adalah soal sikap dan pendidikan mendasar dari rumah masing-masing. Jika kita bisa mulai mengedukasi anggoya keluarga mulai dari Anda dan anak-anak Anda, paling tidak menurut saya dapat mengurangi jumlah sampah yang dibuang sembarangan setiap harinya di lingkungan sekitar Anda masing-masing. Dan akan lebih baik lagi jika Anda bisa membujuk teman dan kenalan Anda juga untuk tidak membuang sampah sembarangan, tularkan sikap ini seperti virus yang baik dan Anda merasa senang dan bangga menularkannya ketika seseorang berubah dari tidak peduli hingga menjadi orang yang peduli dengan masalah sampah ini.

Spread this message, spread the virus, spread the attitude in your own way. Make it personal, one to one communication to make it more effective. Why? Because five or ten years from now, I still want to be able to enjoy the blue and turquoise water without trash or waste near me and I believe you want the same too. Because I can guarantee you wouldn't want to swim in a sea full of waste, dark colored and stinky like the one you can find in Ancol Bay.

Tularkan dan sebarkan sikap ini dengan cara Anda sendiri, ajak teman dan kenalan bicara satu lawan satu agar lebih efektif. Kenapa? Karena lima atau sepuluh tahun dari sekarang, saya masih mau liahat laut yang bersih, laut yang biru dan turuoise tanpa ada sampah ketika saya snorkeling atau menyelaminya dan saya yakin Anda juga menginginkan hal yang sama. Karena saya jamin Anda juga ga mau berenang di laut yang hitam, kotor, dan berbau seperti dekat pantai Ancol.

This is how the sea near Pramuka Island look like from a drone point of view, 2017. Hoping it will last or even become better years from now.


And if you happen to able to gather some friends to do underwater clean up, you can watch this video on how to do it safely:


Never dive alone, buddy! Anda take care of our ocean!

Jangan pernah menyelam sendirian, kawan! Dan jagalah laut kita!
Otto Ferdinand Otto Ferdinand Author

Motret Patrishiela Tan dan Fatya Ginanjarsari di dekat Goa Pindul, Jogjakarta dengan High Speed Sync Godox AD600 | Photographing Patrishiela Tan and Fatya Ginanjarasi near Pindul Cave, Jogjakarta using High Speed Sync Godox AD600BM

Saya pertama tahu nama Patrishiela Tan dari seorang teman yang bekerja sebagai Associate Producer di sebuah stasiun televisi untuk program Para Petualang Cantik, atau dulu juga dikenal dengan nama Tour of Beauty. Isi programnya secara umum adalah petualangan para gadis cantik ke berbagai tempat di Indonesia dan luar Indonesia. Dulu dalam satu episode mereka memakai 3 pemandu acara cantik yang kemudian berubah menjadi 2 pemandu acara.

I recognized the name Patrishiela Tan from a friend, an Associate Producer in a tv station for Para Petualang Cantik tv show or it was also called Tour of Beauty when its first broadcasted. It's a travel tv show hosted by beautiful girls going into so many places in Indonesia and outside of Indonesia. When it was first aired, there are actually three girls in one episode but it changed now to two hosts.

Fatya Ginanjarsari (left) and Patrishiela Tan (right)
Trip pertama saya bersama Para Petualang Cantik dimulai sekitar satu tahun lalu ke daerah Garut, dalam rencana perjalanan akan ada bermain ke goa vertikal di pinggir pantai dan banyak kalelawar didalamnya, bermain di tebing/gunung batu, dsb. Di trip itu Patrishiela tandem dengan Erica Putri yang menurut saya orangnya kocak abis dan blak-blakan. Trip sama tim Para Petualang Cantik selalu penuh tawa dan tantangan.

My first with Para Petualang Cantik team and the first time I met Patrishiela Tan was on a trip to Garut, West Java. We were visiting a vertical cave near a beach and filled with bats inside, climbing a hill of rock, etc. It was Erica who accompanied Patrishiela in that trip, Erica is a very funny girl and speaks out front. Trip with the team is always filled with laughter and challenge.

Patrishiela Tan

Perjalanan bersama tim Para Petualang Cantik ke Jogjakarta ini adalah perjalanan saya yang kesekian kali (ga pernah dihitung) dan rasanya ini sudah setahun saya ikut tergabung dalam perjalanan tim Para Petualang Cantik. Dalam perjalanan ke Jogjakarta kali ini pemandu acaranya adalah Patrishiela Tan dan yang baru saja bergabung yaitu Fatya Ginanjarsari. Pada dasarnya seluruh perjalanan lancar dan aman, kecuali masalah supir yang saya rasa dulunya dia pernah casting untuk Tokyo Drift tapi ga lolos hahaha.

I think it's been a year since I first joined the team and in this trip I there's Patrishiela Tan and Fatya Ginanjarsari as the hosts. Basically, the whole trip was OK but there's this one driver that I think that he once applied for a role in the Tokyo Drift movie but he didn't get it. Do you know what mean? lol.


Fatya Ginanjarsari
Salah satu item dalam perjalanan ke Jogjakarta kali ini adalah bermain mobil offroad 4x4 dan mereka harus masuk hutan, lewatin kubangan lumpur sampai masuk ke dalam sungai. Kalau mau liat tonton terus ya program Para Petualang Cantik.

One of the item in Jogjakarta is trying the offroad experience near Pindul Cave, we went in to a woods, puddle of muds and driving down to a river! If you want to see the whole offroad experience, watch the program Para Petualang Cantik or if do not have access to Indonesia tv channels you can wait until they upload it here.


Patrishiela Tan

Fatya Ginanjarsari




Saya menggunakan kamera mirrorless Sony A6300 dengan Godox Trigger X1S dengan flash Godox AD600BM dan foto-foto diambil sekitar jam 3-4 sore hari. Saya sangat senang dan cukup puas dengan performa trigger dan flash godox ini, kekuatan lampu cukup untuk memberi cahaya pada jam pengambilan foto menggunakan fitur high speed sync hingga rana maksimum milik Sony A6300 yaitu pada kecepatan 1/4000. Dan juga flash bisa saya atur melalui remote trigger tanpa saya harus bolak-balik menghampiri yang pegangin lampu flash.

Beli Kamera Sony A6300 dan Godox AD600BM disini:
        



I'm using the Sony A6300 with Godox trigger X1S and Godox AD600BM flash and photos were taken around 3 or 4 in the afternoon. I'm quite happy with the performance of these Godox products, the power of the light can give enough light on location in this certain time of day using its High Speed Sync capabilities I can push the shutter speed to Sony A6300's maximum at 1/4000. Also, I can use and control it wirelessly using the remote trigger without having to go back and forth to the person whose holding the light.

Buy the Sony A6300 and Godox AD600BM here.
                       
Otto Ferdinand Otto Ferdinand Author

Drone jatuh ke laut dan hidup kembali untuk kedua kalinya! | Drone crashed into the sea and came back alive for the second time!

Minggu lalu saya terima orderan kerjaan aerial video ke Pulau Pramuka untuk bikin video liputan acara bersih pantai dan bawah laut bareng KFC Indonesia dan Divers Clean Action. Berangkat pagi sekitar jam 5 pagi karena harus sudah ada di dermaga 16 Marina, Ancol jam 5.30 pagi sesuai permintaan panitia. Saya berangkat bareng Jani yang biasa jadi asisten saya kalau shooting ataupun terbangin drone supaya lebih aman terbangnya, ada yang liatin keberadaan drone dan menghindari tabrakan atau serangan burung.

I accepted a job last week to fly and take some aerial shots in Pramuka Island to cover a beach and underwater clean up event held by KFC Indonesua and Divers Clean Action. I started from home around 5am because the organizer asked to meet them at the marina at 5.30am, so I did came early. I'm with Jani, usually he is my camera assistant and my co-pilot whenever I fly to watch the drone and minimized the risk of crashing or got hit by birds esp. eagles.

Sampai di dermaga 16 pas jam 5.30 tapi..pesertanya baru secuil yang dateng begitu juga panitianya hahaha. Tunggu punya tunggu nyatater berangkatnya jam 7.30 juga pada akhirnya hahaha. Setelah semua kumpul, berangkatlah dengan speedboat charteran dengan mata yang udah 5 watt alias ngantuk lagi. Selama di perjalanan tidur, biar ga mabuk laut.

Arrived exactly 5.30am, almost no one has come hahaha. And I had to wait until 7.30 and then go to the island using the chartered speedboat with all the organizers and participants. Then I fell asleep on our way to the island, thanks to waking up early!



Sampai di Pulau Pramuka panitia dan tim dokumentasi termasuk saya langsung ambil posisi dan siap-siapkan segala sesuatunya buat acara ini. Sayangnya, langit mendung sangat dan anginnya kenceng ga kira-kira. Dari Pulau Pramuka keliatan di Pulau Panggang di sebrang udah mendung banget bikin ragu mau terbangin drone buat ambil stock gambar aerial.

After we're in the island all of the people start getting busy with their own business, preparing stuffs and else. It was dark and very strong wind at that time and it made me a bit afraid to fly the drone but I have to to film some stock footage for the video.

Dengan sedikit rintik-rintik akhirnya saya terbangin juga dronenya dengan waspada dan merhatiin sekitar kalau tiba-tiba hujan deras dan harus cepat-cepat mendarat. Begitu lewatin batas tinggi pohon, makjan itu drone ga bisa lurus terbangnya dan posisi drone juga miring hampir 45 derajat karena nyeimbangin kencengnya angin. Ngedrift kaya mobil-mobil di Tokyo Love Story (re: Drift). Tapi akhirnya penerbangan pertama aman sampai mendarat lagi walaupun stock gambar tidak memuaskan karena ga bisa terbang jauh dan guelap semua rek gambarnya karena awan hitam dimana-mana alias bluwek.

With the tiny rain droppings I flew the drone cautiously and pay very good attention whether the rain will be hard and I have to land immediately. Just a bit above the trees' heights the wind is very strong and it made my drone drifting and its position is leaning almost 45 degrees. But I managed to take some shots but they're not good because its very dark and dark clouds were everywhere.

video

Penerbangan-penerbangan selanjutnya aman sampai ke penerbangan ke-dua sebelum yang terakhir, tiba-tiba di monitor terlihat drone seperti ditabrak sesuatu karena saya sampai bisa melihat propeller dan lampu led merah sebelah kiri di monitor, langsung saya panggil Jani untuk liat dimana posisi drone apakah aman, "kok seperti digangguin burung" saya bilang ke Jani. Ga pake lama, saya langsung tarik balik drone ke arah pulang dan mendaratkannya dan ternyata ga ada burung yang gangguin atau ngikutin. Kalau burung elang biasanya sampe ngikutin drone, jadi pada hati-hati ya kalau ada elang dan pengen nerbangin drone.

Almost all my flights were fine until before the second last flight I saw the left front led and propeller in my monitor so I said to Jani "look at the drone, is there any bird near it?" Because I feel like a bird try to take it down. After that I bring the drone back to home point and land it safely.

video

Penerbangan terakhir saya liat ternyata kondisi arm propeller kiri depan sudah tidak bagus karena retak dan pecah di bagian bawah bodinya. Tapi karena saya sudah tukar memory card dengan card baru dan hanya perlu satu shot pendek dan terbang rendah jadi saya tetap maksain terbang. Selesai merekan shot yang saya perlukan, semenit kemudian...BLAAARRR!!! drone sukses terjun bebas ke laut dekat Restoran Keramba. #KRIK...

On my last flight I saw that the left front propeller arm is not in a good condition. But since I already put a new card in it and I only need one short shot so I flew it anyway. I managed to film the shot but then....not a  minute after it crashed into the sea near the jetty.

video

Kami minta tolong sama pemilik tambak disitu untuk liatin apa ada ga deket tambak mereka drone-nya? Kalau ada mau coba berenang dan ambil bangkainya. Bapak tersebut pun jalan ke tambaknya dan ngeliatin begitu juga salah satu teman dari Divers Clean Action ada yang langsung ambil masker dan fins lalu berenang ke lokasi jatuh buat liat apakah bangkai dronenya masih bisa diselamatkan atau tidak. Dan menurut dia drone sudah ga keliatan. Saya pikir mungkin memang si drone ini pingin menyatu dengan laut karena drone ini juga dulu pernah jatuh di laut Ambon, tapi masih di pentai dekat dermaga yang airnya dangkal. Drone diselamatkan oleh teman saya Windy lalu saya cuci dengan air tawar bahkan saya rendam di bathtub lalu saya keringkan, saya bongkar, dan ganti parts dan dia pun kembali berfungsi lagi! Dan sekarang dia kembali lagi terjun ke laut, jadi saya pikir memang dronenya kepingin tinggal di laut sama manusia atlantis dan para putri duyung hahaha. Karena hari sudah sore, kami harus segera pulang ke Ancol karena kalau kesorean ombak akan besar jadi dengan ikhlas saya pun meninggalkan si drone, mengabulkan keinginannya menyatu dengan laut. Tapi salah satu dari panitia Divers Clean Action bilang sama saya, nanti kami minta tolong orang pulau buat cariin ya. Saya bilang ok. Walaupun kayanya drone ga akan ketemu dan kalaupun ketemu baru bisa saya terima keesokan harinya dalam pikiran saya pasti sudah hancur semua dan sudah berkarat.

video

We asked for help to the owner of the fishpond to take a look near their fishpond whether they can see it so that we can swim and pick it up. But then of of the guy amongst the diver decided to wear his mask and fins and then swim to try and find the drone but he couldn't find it. So I called it a day because we must go back home because the longer we stayed there the sea will more choppy for the speedboat. I thought that this drone wanted to be part of the ocean since the same drone also crashed into the Ambon Sea but I managed to recover it helped by friend Windy and bring the drone nack from the dead. "Maybe it just want to be one of the atlantic citizen or maybe it wants to meet the mermaids underwater" I said to myself hahaha.

Kami pun naik speedboat menuju Ancol dan tepat sebelum kapal merapat di dermaga teman saya Windy bilang "Co, dronenya ketemu udah dititip ke Kak Anda". Saya kaget dan senyam senyum sendiri karena cewe cakep depan saya ngeliatin saya terus (halusinasi) hahahah.

Then we went back to Jakarta but right before the speedboat arrived at the marina, my friend Windy said that the local people in the island found the drone and they gave it to my friend that is staying in the island for more underwater filming. I think I smiled a little because this cute girl in front of me is smiling at me (kidding) hahhaah.

Singkat cerita, bangkai drone saya terima dua hari setelahnya dan benar saja kondisinya sudah berkarat dan memang body arm baling-baling kiri depan sudah hancur.

Long story short, I received the rest of the drone two days later and yes the condition is bad, one of the propeller arm is broken and the motor is shanging on its cable.

video

Tapi karena penasaran lalu saya rendam drone di air tawar, saya keringin, dan saya bongkar lagi dan tebak! DIA HIDUP LAGI!! HAHAHAHAHA..

But because of my curiosity, I washed it again, dry it. Then I disassemble everything and put them back again and guess what?! IT CAME BACK FROM THE DEAD! For the second time! HAHAHHAA

Saya tinggal ganti parts body dan kamera+gimbal maka si drone ini akan bisa dipakai seperti kemarin lagi.

I'll just to replace the body and the gimbal and its' going to be ok gain just like after it swims into Ambon sea.

Hebat juga ini drone, sakti banget. jadi kepikiran kasih nama buat drone, nama yang melambangkan kesaktiannya tapi belum memutuskan nama yang tepat hahaha, kira-kira namanya apa ya?

This drone is crazy! I'd like to give it a name, but I haven't decided yet. Help me with the name will you? Hahaha




Otto Ferdinand Otto Ferdinand Author

Follow me on instagram

Follow me on instagram

Follow me on twitter

Follow me on twitter