My Work.
from Land, Aerial and Underwater
Showing posts with label yogyakarta. Show all posts
Showing posts with label yogyakarta. Show all posts

Photographing Patrishiela and Fatya in Yogyakarta using Sony A6300 and Godox AD600BM | Motret Patrishiela dan Fatya di Yogyakarta menggunakan Sony A6300 dan Godox AD600BM

This post is just a photo compilation of two models from Para Petualang Cantik, a tv program about beautiful girls traveling into beautiful places in Indonesia and outside of Indonesia. These photos were taken around two weeks ago while on our trip to Yogyakarta. I was using the Sony A6300 and Godox AD600BM mobile flash with Godox X1s wireless trigger.


Fatya Ginanjarsari
Tulisan kali ini hanya merupakan kompilasi beberapa foto dari model dan pembawa acara Para Petualang Cantik, sebuah program tv mengenai para gadis cantik yang bertualang ke tempat-tempat indah di Indonesia dan luar Indonesia. Foto-foto diambil sekitar 2 minggu lalu dalam perjalanan kami ke Yogyakarta. Saya menggunakan Sony A6300 dan Godox AD600BM serta trigger nirkabel Godox X1s.


Patrishiela Tan

Fatya Ginanjarsari
 So far, this small-lightweight sony camera is quite reliable for outdoor photography like this one. It has 24mp photo in 6000 x 4000pxl dimension. I'm using it with its Sony 16-50mm kit lens. They're ok but sometimes when I'm using big aperture the autofocus is not responding so well that one or two times I have to switched from manual to auto focus (using the quick access button) then the autofocus will work again. Maybe anyone else is having the same issue? Or maybe Sony want to take a look at this? I don't know.

Fatya Ginanjarsari (left) and Patrishiela Tan (right)
Fatya Ginanjarsari (left) and Patrishiela Tan (right)
Sejauh ini, kamera kecil dan ringann ini cukup mumpuni untuk motret luar ruangan seperti ini. Dengan 24mp dan resolusi maksimal 6000x4000pxl dan format raw. Saya menggunakannya dengan lensa bawaan Sony 16-50mm. Kamera bagus tapi kadang kalau lagi tutup aperture si autofocus tidak bekerja dengan baik dankadang sekali-dua kali saya harus ganti mode dari manual ke fokus auto supaya fokus autonya kembali bekerja. Apakah yang lain ada yang mengalami hal yang serupa? Atau mungkin Sony mau ngecek dan cari tau ada apa dengan kameranya ini?

Fatya Ginanjarsari
Patrishiela Tan
Well here are the photos.

Silahkan dilihat foto-fotonya.

Thanks to both of the models, the guy who helped me with the light and the whole Para Petualang Cantik team.

Terima kasih kepada kedua model, mas yang bantu pegangin lampu dan seluruh tim Para Petualang Cantik.



                       
Otto Ferdinand Otto Ferdinand Author

Motret Mbah Ijem Yang Menghuni Goa Langse 49 Tahun | Photographing Mbah Ijem The Cavewoman

Beberapa minggu yang lalu saya melihat seorang mantan produser saya mengunggah hasil liputan salah satu reporternya ke instagram, sebuah liputan mengenai seorang wanita tua bernama Sukijem atau akrab disapa Mbah Ijem yang tinggal di Goa Langse di pesisir selatan Pulau Jawa dekat D.I. Yogyakarta. Saya pun tertarik untuk datang kesana untuk motret sosok tersebut. Kebetulan tak lama lagi saya akan ada trip ke Yogyakarta bersama tim Para Petualang Cantik jadi kenapa tidak sekalian perpanjang waktu disana dan menyempatkan diri mengunjungi Mbah Ijem di Goa Langse?

Mbah Ijem dan Bambang anjing peliharaan sekaligus teman di Goa Langse
Few weeks ago I saw an instagram post from my ex-producer, it's a feature story about an old woman named Sukijem or also known as Mbah Ijem who have been living in Langse cave located in the southern coastline of Java Island, in the area of Special Region of Yogyakarta. I was interested to take photo of her. Coincidentally I'm about to travel to Yogya few days later with the Para Petualang Cantik team so I decided why not extend there for a few days to take the photo?

Membawa kayu bakar menuruni tebing, terkadang Mbah Ijem harus bergantung pada batang kayu yang tersedia
Lalu saya minta bantuan narahubung kepada mantan produser saya dan kepada reporternya, setelah itu saya mengatur janji kepada narahubung lokal yang bisa membantu untuk turun ke Goa Langse dan bertemu Mbah Ijem. Ternyata tim PPC juga mengunjungi Mbah Ijem tapi saya tidak memotret Mbah Ijem pada waktu itu karena masih dalam kapasitas bekerja dalam tim PPC. Setelah selesai pekerjaan dengan tim Para Petualang Cantik saya mengantar mereka ke bandara lalu langsung menuju Goa Langse.

And then I asked my ex producer and his reporter on how can I get there and where should I contact the local guide? And then I set up time to meet the local guide and asked him to accompany me to go down to the cave. Well somehow, the PPC team is also going there but I didn't take the photo while with the team because it would be unprofessional. So after I finished the trip with PPC team, I dropped them off at the airport and then I go straight to the cave again.
Tebing tinggi yang dilewati Mbah Ijem berbahaya, jika jatuh batu karang dan laut yang menyambut

Mbah Ijem berbicara dengan Bambang anjingnya
Beruntung sekali ketika sampai disana, Mbah Ijem baru saja selesai mengumpulkan kayu bakar dan dia sedang menggendongnya dengan diikat kain di punggungnya, saya pun langsung turun dari motor dan minja ijin kepada si Mbah untuk diperbolehkan mengambil gambarnya, si Mbah pun tertawa dan tersenyum serta memperbolehkan saya untuk mengintilinya turun dan mengambil gambarnya sampai ke goa. Perjalanan si Mbah turun dan sedikit behind the scenes waktu saya motret si Mbah dibantu Pak Supriyadi bisa dilihat di video ini:

I consider myself very lucky at that time because I met Mbah Ijem right before she's going down to the cave after collecting firewoods. I jumped off the motorcycle and asked her if I can come along with her down to the cave and take pictures of her and then she laughed and said yes. You can see how she climb down the steep cliffs in this video along with a short behind the scenes video when I took her photo:



Terlihat jelas di video bahwa si Mbah harus berhati-hati turun, kadang dia harus mengatur ulang posisi kayu bakar di punggungnya agar tidak tersangkut atau talinya kendor. Jalan turun ke bawah terbilang sulit dan berbahaya menurut saya, apalagi untuk Mbah Ijem yang sudah berusia 68 tahun dengan bawaan seperti itu tapi mungkin karena dia sudah melakukan ini hampir setengah abad, tidak terlalu masalah untuk turun dengan membawa beban kayu bakar di punggung. Kadang dia harus berpegang ke dahan dan ranting, ke batang kayu, tangga, dan pelan-pelan berjalan di tebing batu yang sempit. Dan menurut orang sekitar, beberapa waktu yang lalu ada pengunjung yang terjatuh di tebing ini dan meninggal, jadi itu membuat saya semakin hati-hati untuk turun dan naik tebing.

As you can see in the video that she have to be very careful on her way down, sometimes she have to reposition the firewoods on her back in order to avoid them got stuck. To me, it's quite difficult an dangerous for 68 years old Ijem, but maybe because she has been doing this almost half a century she's used to it even with loads of firewoods on her back. Sometimes she hangs on to the trees, the stairs and walk carefully on a narrow pathway on the cliff. According to locals, recently a man fell down the cliff and died and it made me even more careful following her down.

Mbah Ijem duduk di 'warung' tempat dimana ia memasak untuk para pengunjung goa
Setelah sampai di bawah saya melakukan sedikit wawancara dengan Mbah Ijem, Mbah Ijem lumayan kooperatif walau sepertinya dia agak malu untuk terus melihat ke arah kamera tapi secara keseluruhan menurut Pak Supriyadi sang pemandu lokal saya sangat beruntung kali ini Mbah Ijem sangat bersahabat, mau sedikit diarahkan dan diajak ngobrol sampai ketawa dan bercanda. Menurut saya, bisa ketemu dan mengambil gambar si Mbah dari atas tebing membawa kayu bakar sudah sangat beruntung. Saya beruntung dua kali!

As we arrived in the cave I interviewed her for a while, she was being very cooperative even though I think she was a  bit shy to look straight to the camera but overall according to Mr. Supriyadi my local guide; I am so lucky because it's unusual for Mbah Ijem to act like this, I can talk to her, ask her to be photograher, and laugh almost every time we talk. Well, to me it's a double lucky because just to be able to take her pictures while climbing down the cliff with firewoods is already a big luck!

Mbah Ijem di mulut Goa Langse
Ada satu hal yang tidak dapat saya pastikan dengan mantap, yaitu tinggi tebing dari bibir pantai di depan goa tempat si Mbah Ijem tinggal. Beberapa artikel menuliskan 250, 300, bahkan 400 meter. Pemandu lokal kadang bilang 300 atau 350 meter. Menurut saya tinggi tebing sekitar 100-150 meter karena saya menerbangkan drone di depan goa, terbang ke atas hingga atas tebing kelihatan dan data penerbangan menunjukkan tinggi drone hanya 86 meter. Dengan tambahan mulut goa ke pantai dibawahnya serta sudut kamera drone yang lebar, jadi asumsi saya tingginya sekitar 100-150 meter. Kalau ada yang sudah pernah mengukur atau terima data pastinya, silahkan dikonfirmasi.

There's one thing that I can not confirm for sure, some articles wrote that the height of cliff is around 250-400 meters but from my flight data on my drone, it's only around 86m with additional more gap to the shoreline and few meters because the wide angle view of my drone camera. So I guess it's only around 100-150 meters high. Well, if anyone can confirm the exact height please do tell.

Mbah Ijem punya 'rumah' dengan halaman Samudera Hindia dan pemandangan matahari terbenam 

Terima kasih sudah membaca tulisan saya dan menonton video di kanal youtube saya! Datang lagi di unggahan saya lainnya!

Thank you for reading and for watching my youtube channel! Come back another post!

Gear I'm using:
- Sony A6300
- Godox AD600BM
- Godox X1Ts
- Sony UWP V1
- DJI Osmo



                       


   
Otto Ferdinand Otto Ferdinand Author

Motret Patrishiela Tan dan Fatya Ginanjarsari di dekat Goa Pindul, Jogjakarta dengan High Speed Sync Godox AD600 | Photographing Patrishiela Tan and Fatya Ginanjarasi near Pindul Cave, Jogjakarta using High Speed Sync Godox AD600BM

Saya pertama tahu nama Patrishiela Tan dari seorang teman yang bekerja sebagai Associate Producer di sebuah stasiun televisi untuk program Para Petualang Cantik, atau dulu juga dikenal dengan nama Tour of Beauty. Isi programnya secara umum adalah petualangan para gadis cantik ke berbagai tempat di Indonesia dan luar Indonesia. Dulu dalam satu episode mereka memakai 3 pemandu acara cantik yang kemudian berubah menjadi 2 pemandu acara.

I recognized the name Patrishiela Tan from a friend, an Associate Producer in a tv station for Para Petualang Cantik tv show or it was also called Tour of Beauty when its first broadcasted. It's a travel tv show hosted by beautiful girls going into so many places in Indonesia and outside of Indonesia. When it was first aired, there are actually three girls in one episode but it changed now to two hosts.

Fatya Ginanjarsari (left) and Patrishiela Tan (right)
Trip pertama saya bersama Para Petualang Cantik dimulai sekitar satu tahun lalu ke daerah Garut, dalam rencana perjalanan akan ada bermain ke goa vertikal di pinggir pantai dan banyak kalelawar didalamnya, bermain di tebing/gunung batu, dsb. Di trip itu Patrishiela tandem dengan Erica Putri yang menurut saya orangnya kocak abis dan blak-blakan. Trip sama tim Para Petualang Cantik selalu penuh tawa dan tantangan.

My first with Para Petualang Cantik team and the first time I met Patrishiela Tan was on a trip to Garut, West Java. We were visiting a vertical cave near a beach and filled with bats inside, climbing a hill of rock, etc. It was Erica who accompanied Patrishiela in that trip, Erica is a very funny girl and speaks out front. Trip with the team is always filled with laughter and challenge.

Patrishiela Tan

Perjalanan bersama tim Para Petualang Cantik ke Jogjakarta ini adalah perjalanan saya yang kesekian kali (ga pernah dihitung) dan rasanya ini sudah setahun saya ikut tergabung dalam perjalanan tim Para Petualang Cantik. Dalam perjalanan ke Jogjakarta kali ini pemandu acaranya adalah Patrishiela Tan dan yang baru saja bergabung yaitu Fatya Ginanjarsari. Pada dasarnya seluruh perjalanan lancar dan aman, kecuali masalah supir yang saya rasa dulunya dia pernah casting untuk Tokyo Drift tapi ga lolos hahaha.

I think it's been a year since I first joined the team and in this trip I there's Patrishiela Tan and Fatya Ginanjarsari as the hosts. Basically, the whole trip was OK but there's this one driver that I think that he once applied for a role in the Tokyo Drift movie but he didn't get it. Do you know what mean? lol.


Fatya Ginanjarsari
Salah satu item dalam perjalanan ke Jogjakarta kali ini adalah bermain mobil offroad 4x4 dan mereka harus masuk hutan, lewatin kubangan lumpur sampai masuk ke dalam sungai. Kalau mau liat tonton terus ya program Para Petualang Cantik.

One of the item in Jogjakarta is trying the offroad experience near Pindul Cave, we went in to a woods, puddle of muds and driving down to a river! If you want to see the whole offroad experience, watch the program Para Petualang Cantik or if do not have access to Indonesia tv channels you can wait until they upload it here.


Patrishiela Tan

Fatya Ginanjarsari




Saya menggunakan kamera mirrorless Sony A6300 dengan Godox Trigger X1S dengan flash Godox AD600BM dan foto-foto diambil sekitar jam 3-4 sore hari. Saya sangat senang dan cukup puas dengan performa trigger dan flash godox ini, kekuatan lampu cukup untuk memberi cahaya pada jam pengambilan foto menggunakan fitur high speed sync hingga rana maksimum milik Sony A6300 yaitu pada kecepatan 1/4000. Dan juga flash bisa saya atur melalui remote trigger tanpa saya harus bolak-balik menghampiri yang pegangin lampu flash.

Beli Kamera Sony A6300 dan Godox AD600BM disini:
        



I'm using the Sony A6300 with Godox trigger X1S and Godox AD600BM flash and photos were taken around 3 or 4 in the afternoon. I'm quite happy with the performance of these Godox products, the power of the light can give enough light on location in this certain time of day using its High Speed Sync capabilities I can push the shutter speed to Sony A6300's maximum at 1/4000. Also, I can use and control it wirelessly using the remote trigger without having to go back and forth to the person whose holding the light.

Buy the Sony A6300 and Godox AD600BM here.
                       
Otto Ferdinand Otto Ferdinand Author

Follow me on instagram

Follow me on instagram

Follow me on twitter

Follow me on twitter